Kita biasanya sering menyebut orang yang bertindak tidak sesuai dengan perkataannya dengan sebutan munafik. Dan terlebih lagi sangat kuat sekali digemakan kepada orang yang memiliki citra yang baik (soleh, baik, dsb) lalu di suatu peristiwa melakukan kesalahan. Dan dia tidak pernah diberi kesempatan lagi oleh orang di sekitarnya untuk bisa memperbaiki citranya tersebut.
Celakanya! Hal diatas menjadi bumerang bagi kebanyakan orang pada saat ini. Orang-orang cenderung tidak Ingin berbuat baik atau berbuat soleh Karena dia masih Ingin berbuat suatu perbuatan yang jelek di masa nanti. Paeadigmanya adalah "jika sekarang Saya berbuat soleh, Trus nanti saya bakalan sungkan untuk berbuat yang jelek/maksiat.. Ah mending jangan berbuat soleh sekalian, biar tidak dianggap munafik". Paradigma itulah yang menurut ane keliru.
Padahal, Kalo kita berbuat soleh pada saat sekarang mungkin Tuhan akan menjauhkan kita Dari perbuatan jelek/maksiat di masa depan. Sehingga anggapan munafik akan terlepas, dan belum tentu kita masih hidup di masa depan. Lebih baik kita berbuat soleh aja dulu sekarang, mumpung mungkin Tuhan sedang memberikan hidayah kepada kita. Jadi sebenarnya itu semua (terutama paradigma diatas dan rasa malas yang menghinggapi kita) hanyalah godaan setan yang dibisikan lewat pikiran kita.
Sekarang kita lihat dalam big picture. Orang yang tadi ga Mau disebut munafik, sesungguhnya dia yang munafik. Mengapa demikian? Karena dia "pura-pura lupa" atau "pura-pura ga inget" Kalau suatu saat nanti setelah mati kita semua akan dibangkitkan lagi dan harus mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah kita perbuat di dunia. Dia terus berbuat kejelekan/maksiat dan pura-pura tidak menghiraukan kenyataan yang pasti akan terjadi tersebut. Itulah Munafik yang nyata!
Ayo.. Benahi hati kita mulai Dari sekarang..